Klub-klub Liga Inggris diberikan kesempatan yang sangat berharga untuk menjalani jeda istirahat. Bukan tanpa alasan jeda ini diberikan. UEFA memberi kesempatan kepada para pemain untuk menjalani tugas di negara mereka masing-masing dalam skuad timnas. Jadwal padat di Liga Antarbangsa UEFA membuat mereka harus menjalani tugas penting untuk membela negara masing-masing dan menjadi negara terbaik di seantero Eropa atau kompetisi sejenis lain. Sekarang, setelah masa jeda ini berakhir, muncul satu pertanyaan penting. Setelah periode jeda yang cukup panjang, siapa tim yang akan muncul sebagai yang terbaik?
Periode Jeda Panjang bagi Tim Liga Inggris
Bulan September menjadi waktu yang sangat menentukan bagi tim-tim sepakbola di Eropa. Pada periode ini, mereka mendapat tambahan waktu untuk beristirahat dari turnamen. Waktu jeda diberikan karena banyak pemain harus memenuhi panggilan tugas dari negara masing-masing untuk menghadapi pertandingan di level internasional. Tapi setelah sempat terhenti sementara selama kurang lebih 1 bulan, turnamen Liga Inggris akhirnya kembali berlanjut. Publik kembali mengarahkan perhatian mereka pada turnamen penting ini.
Timnas Inggris bersama Thomas Tuchel mungkin telah menang dan mengamankan langkah mereka ke Wembley. Tapi tak ada yang bisa mengalahkan sensasi menyaksikan tim kebanggan mencapai level terbaik dalam teunamen setelah pemain menunaikan tugas di negara masing-masing. Turnamen sepakbola terbaik di seantero Inggris akhirnya kembali dengan semua kejutannya. Manchester United dan Tottenham Hotspur masih terus berjuang untuk mendapatkan tempat di atas, sambil berusaha menjauh dari zona degradasi. Sementara Liverpool berusaha keras untuk emmatahkan harapan Manchester City di Anfield.
Tiga Klub Masih Memimpin Klasemen
Kembali ke tanah Inggris setelah menyelesaikan waktu istirahat memberi dampak yang berbeda untuk masing-masing klub. Dari total 20 klub yang berusaha mendapat tempat sebagai yang terbaik di seantero Inggris, 3 klub berhasil menempatkan diri masing-masing di posisi teratas dalam sepanjang sejarah turnamen setelah jeda pertandingan internasional
Arsenal masih berhasil mengamankan posisi mereka di puncak klasemen. Mereka berhasil mendapatkan 81 poin dari 43 kali menang, 20 kali imbang, dan 18 kali kalah. Hasil ini menemptakan mereka memiliki persentase kemenangan di 53,1%. Posisi mereka diikuti oleh Manchester City. Cityzens mengoleksi 79 poin yang mereka dapatkan dari 41 kali menang, 20 kali imbang, dan 18 kali kalah. Pencapaian mereka menyentuh persentase menang 51,9%. Sedangkan di peringkat ketiga terdapat Liverpool. The Reds mendapatkan 80 poin dari 40 kali menang, 22 kali imbang, dan 18 kali kalah. Pencapaian mereka berada di persentase menang persis 50%.
Dua peringkat berikutnya dihuni masing-masing Chelsea dan Manchester United. The Blues menempati peringkatnya setelah mendapatkan 80 poin. Mereka mendapat poin ini dari 40 kali menang, 19 kali imbang, dan 21 kali kalah. Pencapaian ini mereka dapatkan dengan persentase menang juga persis 50%. Sedangkan Manchester United hanya bisa mendapatkan 48,1% persentase menang. Mereka mendapatkan angka ini dengan 81 poin dari 39 kali menang, 22 kali imbang, dan 20 kali kalah.
Dasar Pertimbangan Penilaian Kekuatan Tim Liga Inggris
Cukup mengejutkan, juara bertahan Liga Inggris saat ini masih bisa menempati posisi mereka di peringkat paling atas di sepanjang sejarah turnamen setelah jeda istirahat internasional. Tim dari London utara ini menang 43 kali dari 81 pertandingan, dengan pencapaian persentase menang di 53,1%. Dengan dominasi mereka di kompetisi elite Inggris dalam 1 dekade terakhir, Manchester City bergerak menghimpit The Gunners dengan catatan prestasi yang hampir sama. Mereka menang 41 kali dengan persentase kemenangan mencapai 51,9%.
Untuk 4 peringkat berikutnya, nama-nama yang muncul cukup bisa diprediksi. Liverpool mengejar di peringkat 3 dengan persentase menang 50% dan disusul Chelsea dengan persentase yang sama. Peringkat berikutnya dihuni oleh Manchester United dengan persentase 48,1% dan langsung dikejar Spurs dengan persentase 45%. Empat klub ini bisa dikatakan cukup menikmati hasil permainan yang cukup baik setelah pemain mereka menunaikan tugas di negara masing-masing.
Di luar dari nama-nama besar tadi, pesaing anyar Liga Champions: Newcastle Untied dan Aston Villa masing-masing menempati peringkat 7 dan 6. Aston Villa mencapai peringkat 6 dengan persentase menang 40% dan diikuti Newcastle United dengan 38%. Sedangkan di posisi lain, Hull City, Ipswich Town, dan Coventry City masih belum bisa bergerak dari dasar klasemen. Coventry City hanya bisa menang 22,9% dari semua pertandingan mereka sejauh ini.
Semua catatan ini mempertimbangkan semua pertandingan dari 20 klub di Liga Primer dan Championship sejak periode tahun 2000. Catatan ini mungkin tidak sempurna, tapi banyak informasi berharga yang bisa ditarik dari semua catatan ini. Misalnya, Brighton & Hove Albion serta Bournemouth telah menghabiskan kwatu mereka di luar dari 2 kompetisi utama Inggris, mengurangi porsi dampak permainan mereka dalam klasemen yang dibangun. Tentu hal semacam ini tidak berlaku bagi tim-tim besar di Inggris seprti Tottenham Hotspur, Manchester United, Chelsea, Lieprool, Manchester City, sampai Arsenal. Riwayat panjang masing-masing dalam turnamen ini membuat mereka bisa memberi sampel cukup banyak untuk dipertimbangkan dalam klasemen ini.
